• rafraf
  • Kesaksian
  • Komentar Dinonaktifkan pada Panen Mentimun Dapet 18 Juta, Hanya dalam 2 Bulan (Tasikmalaya, 2014)

Panen Mentimun Dapet 18 Juta, Hanya dalam 2 Bulan (Tasikmalaya, 2014)

Sudah sering saya sampaikan pada artikel terdahulu, bahwa bertani itu sangat menjanjikan, dan tidak perlu muluk-muluk. Keuntungan dari hasil pertanian itu sebenarnya sangat besar, kalau kita mau menekuninya secara serius. Rumusnya saya kira sederhana saja, terutama bagi pemula: cukup tanam tanaman yang sekiranya bisa kita kuasai, mudah dibudidaya, berbiaya rendah, minim resiko, dan kita yakin bisa mengelolanya dengan baik. Bagi yang baru belajar bercocok tanam, jangan dulu terobsesi untuk menanam tanaman yang berisiko tinggi dan berbiaya tinggi, katakanlah seperti cabai, tomat, paprika, atau lainnya. Sebaliknya menanam tanaman yang berbiaya minimal dan resiko minim bisa menghasilkan keuntungan yang besar bila kita mengelolanya dengan baik sehingga menghasilkan panen yang baik. Percuma kita berharap mendapat keuntungan yang besar dan singkat dari budidaya tanaman yang resikonya besar – katakanlah cabai. Sekalinya tanaman yang dibudidaya hancur, keuangan kita bisa langsung “sekarat” karena modal yang besar tersebut lenyap dalam sekejap. Bukannya untung yang diraih, malah buntung. Kerugian ini bisa lebih parah terutama bila modal tersebut bersumber dari utang…

Berikut ini kami sampikan kelanjutan kisah bapak Ijan dan bapak Ridwan di Tasikmalaya, Jabar. Keduanya merupakan dua bersaudara, yang membudidaya mentimun di lahan yang sama.

mentimun subur bebas hama 01

Lahan yang dimiliki bapak Ijan/Ridwan ini tidak begitu luas, hanya sekitar 1500 m2.  Namun alhamdulillah dari lahan yang kecil tersebut, dapat diperoleh pendapatan 18 juta rupiah dari hasil panen mentimun, dalam waktu yang singkat yakni sekitar 2 bulan. Harga di tingkat petani pada saat ini cukup lumayan, sekitar rp 1800.

Tanaman yang subur dan sehat dengan buah yang lebat sudah menghasilkan 15 kali petik (pada saat kami pantau).

Memang, bapak Ijan/Ridwan ini belum menerapkan konsep pertanian organik sepenuhnya, karena pupuk dasar dan pupuk kocornya masih menggunakan pupuk kimia meskipun tidak banyak. Namun untuk penanggulangan hama dan penyakitnya (melalui penyemprotan), sama sekali tidak melibatkan pestisida kimia. Cukup menggunakan produk kami: ANTILAT (insektisida organik) dan NOPATEK (fungisida hayati).

Pupuk dasar yang digunakan (pada saat olah tanah) berupa: kompos+Phonska+SP36+Dolomit. Adapun pupuk kocornya (mingguan) berupa NPK. Pupuk daun dan sekaligus perangsang buah yang digunakan adalah POC BMW, disemprotkan bersama-sama ANTILAT dan NOPATEK (digabung), seminggu sekali.

Perbedaan mecolok yang dirasakan bapak Ijan dan bapak Ridwan ini adalah bahwa kebunnya kini tidak lagi pengap dengan “aroma” pestisida kimia yang menusuk pernapasan. Setelah menggunakan insektisida organik ANTILAT dan fungisida hayati NOPATEK, bapak Ijan tidak khawatir lagi dengan ancaman kesehatannya. Penyemprotan pun tidak perlu menggunakan masker. Suasana kebun betul-betul segar alami, bebas dari “polusi” pestisida kimia yang lazimnya dijumpai di perkebunan palawija para petani di wilayah tersebut. Kini bapak Ijan dan bapak Ridwan mulai menyadari betapa besar manfaat dari solusi organik – khususnya untuk penanggulangan hama dan penyakitnya –  yang mempunyai nilai lebih daripada solusi kimia.

Bapak Ridwan menuturkan, bahwa setelah usai masa tanam mentimun ini, selanjutnya akan menanam cabai merah dan bertekad untuk menggunakan pestisida alami ANTILAT dan NOPATEK. Selain harganya bersahabat, bapak Ridwan juga tidak perlu membeli produk pestisida kimia lagi yang biasanya dibutuhkan beberapa macam. Cukup dengan  ANTILAT, kebutuhan untuk menanggulangi hama-hama utama tanaman, terutama ulat, belalang, lalat buah, kepik, kutu putih, kutu kebul, aphid, dan thrips alhamdulillah bisa tercukupi. Begitu pun untuk menanggulangi penyakit akibat jamur dan bakteri, cukup dibutuhkan fungisida alami NOPATEK saja.

Bapak Ridwan menuturkan bahwa panen mentimun kali ini meningkat sekitar dua kali lipat hasilnya dari pengalaman-pengalaman panen sebelumnya. Bagaimana tidak, dengan lahan yang tidak begitu luas, perolehan panen mencapai 18 juta rupiah.  Bahkan tengkulak/pengepul langganan yang menampung hasil panen Bapak Ridwan/Ijan ini pun konon merasa “eungap” (bhs. Sunda) alias berat untuk membayarnya secara kontan sekaligus 🙂

Pengaruh dari penyemprotan POC BMW secara rutin membuat tanaman mentimun bapak Ridwan/Ijan ini tumbuh meninggi dan terus naik dengan munculnya tunas-tunas baru. Bahkan sampai pada usia tanaman mau dibongkar pun, penampakan tanaman di bagian atasnya masih tetap hijau berseri dan masih saja berproduksi menghasilkan buah-buah mentimun yang masih sangat layak untuk dipetik dan dijual (seperti ditunjukkan Gambar 5).

 

tags:

  • tanaman krai di bulan oktober (1)