• rafraf
  • Kesaksian
  • Komentar Dinonaktifkan pada Menanam Cabai di Karung Juga Bisa Berbuah Lebat – (Tasikmalaya, 2014)

Menanam Cabai di Karung Juga Bisa Berbuah Lebat – (Tasikmalaya, 2014)

Selain bercocok tanam di lahan pertanian luas, kami tim Bumi Makmur Walatra juga tidak bosan-bosannya memberikan contoh praktek nyata budidaya tanaman hortikultura di lahan terbatas seperti di pekarangan rumah. Kami benar-benar ingin, suatu saat nanti mayoritas warga negara Indonesia faham dan terampil bercocok tanam khususnya bercocok tanam organik. Kami benar-benar ingin bangsa kita menjadi bangsa yang mandiri. Bangsa yang mensyukuri apa yang diberikan Tuhannya, berupa karunia tanah yang luas dan subur.

Baiklah, kita langsung saja pada pokok bahasan. Kali ini kita akan belajar menanam cabai dengan wadah karung. Ukuran karungnya bebas saja yang penting berdiameter lebih dari 40 cm. Kalau diameternya lebih kecil biasanya tanaman cabai akan kerdil karena akar tidak berkembang sehingga serapan hara terhambat.

1. Pertama-tama masukkan media tanam ke dalam karung, berupa tanah + sekam padi + kotoran hewan/kompos, dengan komposisi : 3:1:1. Fungsi sekam padi adalah untuk mencegah tanah dari memadat. Pada praktek ini kami sama sekali tidak memakai pupuk kandang maupun kompos karena kami ingin mengandalkan pupuk kami saja yaitu KOCOR BMW dan POC BMW.

2. Langkah kedua adalah mengistirahatkan media selama minimal satu minggu, tapi sebaiknya disiram dulu. Ini agar kondisi media tanam “dingin” dan tidak menjadi bumerang bagi tanaman akibat pupuk kandang yang belum matang.

3. Setelah masa istirahat, sekarang media siap ditanami. Siramlah dahulu media dengan air sebelum bibit dipindah tanam dari persemaian.

4. Tanamlah bibit yang sehat dan segar. Usia ideal adalah antara 22-25 hari, atau berdaun sempurna 4-5 helai. Pada tahap pindah tanam ini, hal yang penting diperhatikan adalah menjaga agar akar tidak rusak, jadi pastikan mengangkat bibit secara hati-hati. Akar yang patah atau medianya terburai lepas biasanya menyebabkan bibit menguning/sakit dulu selama 1-2 minggu setelah pindah tanam.

Kami menyemai benih cabai ini menggunakan baki benih (seed tray), namun Sahabat dapat menggunakan kantong plastik kecil atau wadah bekas es krim atau lainnya.
Penanaman tanggal 02-Sep-2014. Benih yang kami tanam memang masih terlalu muda, karena terburu-buru, sudah gatel pengen nanem 🙂

Cukup disiram saja dengan air yang cukup setelah penanaman ini, JANGAN dikasih pupuk apa pun!

Seminggu kemudian, alhamdulillah tanaman cabai kami nampak segar dan mulai menampakan tunas kecil.
Selain cabai, kami juga menanam terong dan sawi sendok.
Tanaman cabai kami usia 14 hari. Mulai menunjukkan kemontokan 🙂

Pemupukan susulan dimulai usia 10 hari setelah tanam, berupa KOCOR BMW yang diencerkan dengan air.

Sejak awal tanam, tanaman alhamdulillah sehat… tidak menunjukkan sakit atau daun menguning dulu.
Penampakan dari arah atas.
Usia 3 minggu, tanaman cabai kami nampak subur makur dengan daun yang lebar dan tebal.
Tanaman cabai yang seragam suburnya…
Pemupukan susulan masih tetap pakai KOCOR BMW, tanapa NPK atau kimia lainnya… totally organic! 🙂 

Kocor BMW penting dikasihkan dari bawah sebagai sumber makronya. Biasanya dengan pemberian KOCOR BMW, tanaman cabai menjadi kokoh dan berbatang tebal.

Pemupukan secara kocor tidak mesti dijadwal, namun mengikuti perkembangan tanaman saja. Namun sebagai gambaran, sahabat bisa melakukannya sekitar 10- 14 hari sekali.

Si hama kutu (aphid & thrips) mulai bercokol di pucuk-pucuk daun… saatnya ANTILAT dimainkan…
Alhamdulillah si hama kutu berangsur pergi setelah 2x semprot ANTILAT
Penampakan cabai usia 5 minggu, pucuk-pucuk yang bersemi dengan bunga-bunga dan bakal buah.
Pemotretan dari atas.
Pertumbuhan yang sehat, membuat betah meliriknya tiap pagi… 🙂
Bunga-bunga dan bakal buah yang mulai bergelayut… tingkat kerontokan kecil sekali.
Akhirnya… super lebat… 🙂 Bagaimana kalo nanemnya 1 hektar??? 
Siapa bilang nanam cabai di wadah tak bisa lebat..??? Yuk, dicoba..!!