• rafraf
  • Kesaksian
  • Komentar Dinonaktifkan pada Biar Tak Rugi, Tanaman Cabai Yang Pendek dan Kerdil Harus Dibikin Buahnya Lebat – (Tasikmalaya, 2014)

Biar Tak Rugi, Tanaman Cabai Yang Pendek dan Kerdil Harus Dibikin Buahnya Lebat – (Tasikmalaya, 2014)

Sudah bukan rahasia, biaya produksi untuk budidaya cabai memang terbilang besar. Mulai dari biaya persiapan dan olah lahan, benih, tenaga kerja pemeliharaan, sarana produksi seperti ajir, plastik mulsa, pupuk, pestisida, peralatan dan perlengkapan lainnya. Semua itu kalau dikalkuasikan memang bikin kantong petani cekak 🙂 Banyak dari petani terpaksa gali lobang tutup lobang untuk memenuhi tuntutan pemeliharaan tanaman cabainya yang mau tidak mau harus dipenuhi, di tengah kekhawatiran yang menghantui setiap waktu dari risiko-risiko kegagalan dan kerugian seperti akibat serangan hama dan penyakit, dan harga jual hasil panen yang jeblok.

Untuk itulah, sekali kita membudidaya cabai, maka pastikan dengan segala upaya untuk bisa berhasil, jangan sampai pengorbanan biaya, waktu dan tenaga yang besar itu lenyap sia-sia bagaikan air yang menguap…

Sebetulnya, biaya budidaya cabai tidak harus mahal. Beberapa beban biaya bisa kita tekan dengan memangkas bagian-bagian yang kurang efektif atau menggantinya dengan yang lebih efisien namun hasil yang lebih baik. Beralih ke pola budidaya organik jelas menjadi jawaban yang tak terbantahkan.

Faktor lainnya yang sangat menentukan adalah PEMELIHARAAN. Perawatan dan pemeliharaan yang baik, didukung dengan pengetahuan budidaya yang baik dan benar dapat meminimalkan pengeluaran-pengeluaran yang sebetulnya tidak perlu. Asumsinya, tanaman yang terawat dengan baik relatif lebih sehat dan produktif dibandingkan tanaman yang tidak terurus. Dengan demikian, biaya untuk penanggulangan hama dan penyakit sedikit banyak bisa ditekan.

Pada bahasan kali ini kami tampilkan gambar-gambar tanaman cabai yang dibudidaya pak Andi di Tasikmalaya. Tanaman tampak tidak begitu tinggi karena pada fase-fase pertumbuhannya kurang terawat, sering ditinggal kerja, tidak dilakukan pewiwilan, benih yang tidak berkualitas, dan diperparah dengan kekeringan akibat kemarau. Tanaman cabai ini dibudidaya secara organik 100%, tanpa melibatkan pupuk kimia dan pestisida kimia sama sekali. Pupuk dasarnya hanya kotoran kambing, itu pun sangat minimal. Biaya bisa ditekan sampai sekitar 60% dari lazimnya budidaya cabai pola kimia.

Pertumbuhan tanaman cabai yang terlanjur unyil akibat kurang terawat seperti ini hendaknya tidak mematahkan semangat kita untuk merawatnya, tidak lantas membongkarnya dan mengganti dengan tanaman baru. Sayang kan biaya, waktu dan tenaga yang telah kita korbankan cukup besar?! Melainkan kita harus memerbaikinya dengan perawatan yang intensif dengan didukung pemberian nutrisi yang tepat.

Seperti yang Sahabat lihat, meskipun tanamannya kerdil namun buahnya sangat lebat (usia tanaman sekitar 9 minggu). Biar tak rugi, pak Andi mengakali tanaman cabainya yang kerdil ini dengan pemberian perangsang buah, yakni POC BMW. Selain mengandung pupuk makro-mikro utama tanaman, POC BMW memang dilengkapi dengan hormon/ZPT yang memacu lebatnya buah. Jadi biarpun tanamannya kerdil, namun bila produksi buahnya tinggi kerugian dari hasil panen bisa dihindari. Saat tim kami berkunjung ke lokasi, kami lihat tiap tanaman berbuah sangat lebat sekitar 60-70 buah per pohon. Itu artinya sudah mencapai 1 kg per pohon untuk buah tahap pertama ini. Dan alhamdulillah, tidak ditemukan serangan lalat buah di lahan cabai pak Andi ini. Penyemprotan dengan ANTILAT membuat serangga kuning yang ganas merugikan petani ini menjadi tidak betah bercokol di kebun.

Bukan sekedar buahnya lebat, namun juga berkualitas. Penampakan buah secara fisik sangat menarik, padat berisi dan bongsor-bongsor 🙂

Nah, bagi Sahabat di tanah air yang memiliki tanaman cabai yang kerdil namun ingin buahnya lebat, silakan digenjot saja produksi buahnya dengan POC BMW. Selamat mencoba!

UNTUK KONSULTASI SILAKAN MELALUI :

SMS/Telp: 0821-1547-5387
WhatsApp: 0896-6673-9495
BBM: 53551D73

*****

tags:

  • obat lombok kerdil (1)