“10 Hektar Lahan Padi, 1 Kandang Burung Hantu”

12 September, 2013 Hama & Penyakit  Satu komentar

“10 Hektar Lahan Padi, 1 Kandang Burung Hantu”

Melalui tulisan kali ini, sy ingin sekali mencanangkan program “Siapa Mau Boleh Ikut” :), yaitu program memelihara burung hantu, 1 ekor utk 10 hektar lahan padi, bagi segenap petani di tanah air. Hal ini terinspirasi dari silaturahmi sy pada Kamis, 4 Juli 2013. Saya waktu itu punya waktu senggang untuk bersilaturahmi (lagi) dengan Bpk Hendra Kribo atau akrab disapa Mang Ibo. Masih ingat kan dengan postingan saya sebelumnya…?

Ya, Mang Ibo ini adalah salah satu pionir pertanian padi organik SRI di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang sudah melanglangbuana ke berbagai negara tetangga, diundang menjadi “tutor” atau “penyuluh” pertanian organik oleh dinas pertanian setempat. Nah, manakala saya berkunjung, nggak taunya di “saung” gapoktan Simpatik Mang Ibo lagi ada pelatihan budidaya padi SRI organik yang diikuti oleh sejumlah mahasiswa dari IPB dan UNPAD. Saya pun akhirnya turut gabung dan senang sekali bisa berjumpa dengan “pasukan muda” pertanian organik Indonesia… Kami banyak bercengkrama di sana, sambil mendengarkan petuah-petuah Mang Ibo yang kelakarnya ceplas ceplos bikin kami byk tertawa terpingkal-pingkal… 🙂

Selalu saja ada ilmu baru dari Mang Ibo, kali ini saya akan berbagi sedikit dengan Sahabat Organik di seluruh Indonesia yang kebetulan membaca artikel ini, yaitu mengenai pentingnya memelihara burung hantu di lahan padi atau sawah. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk “mengganyang” si hama tikuzzz..!

Mengapa Burung Hantu?

Burung hantu, bukan hanya bikin bulu kuduk saya (sewaktu kecil) merinding saat bersuara di malam hari di atas pohon di dekat rumah, namun juga bikin pasukan tikus ketar-ketir! Ya, burung hantu adalah predator tikus yang rakus. Mang Ibo bilang, burung hantu memang efektif mengendalikan hama tikus di lahan padi, terutama sekali bagi Sahabat Organik yang memiliki lahan sawah yang luasnya berhektar-hektar. “Burung hantu itu kalau malam penglihatannya tajam… begitu pula pendengarannya”, terang Mang Ibo. Jadi pada saat ada pergerakan sedikit saja, burung Mang Ib.. eh, burung hantu bisa langsung bereaksi cepat… 🙂

Efektifkah?

Pemanfaatan burung hantu sebagai predator atau pemangsa tikus sebetulnya bukan hal baru di dunia pertanian. Banyak petani maupun perusahaan agrobisnis di berbagai negara telah menerapkannya sejak lama. Hal ini karena burung hantu diakui lebih efektif, lebih simpel dan lebih murah biayanya dibandingkan pengendalian menggunakan racun tikus atau metode lainnya. Bahkan gropyokan (perburuan tikus yang melibatkan banyak orang secara bersama-sama) masih kalah efektif dari penggunaan burung hantu. Kisah Mang Ibo, pesawahan padi di Malaysia dan Thailand sudah umum dijumpai kandang-kandang burung hantu yang ditaruh di atas tiang-tiang tinggi. Tiang-tiang ini ada yang dari kayu, bambu, maupun besi. Pembuatan kandang dan tiangnya beserta calon burung hantunya memang perlu mengeluarkan biaya, tetapi manfaatnya bisa untuk jangka waktu yang panjang. Jadi, tidak begitu masalah…

Di negeri kita sendiri, sebetulnya sudah banyak petani yang menerapkan burung hantu sebagai predator tikus. Misalnya saja di beberapa daerah seperti Ngawi dan Jombang, juga perkebunan kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan. Karena dinilai efisien dan aman, di perkebunan kelapa sawit biasanya setiap radius 25 hektar dipasang 1 kandang burung hantu. Spesies yang digunakan adalah Serak Jawa atau Tyto alba. Tidak sulit merawatnya, hanya perlu disediakan kandang, maka dia akan masuk sendiri. Setiap tiga bulan sekali dilakukan “sensus” untuk melihat populasi burung hantu tsb.

Burung hantu Serak jawa termasuk spesies berukuran besar, mudah dikenali sebagai burung hantu putih. Wajahnya berbentuk jantung, warna putih dengan tepi coklat. Mata menghadap kedepan. Bulu lembut, berwarna tersamar, bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar pada bulu.

Dari segi biaya, konon pengendalian tikus dengan burung hantu lebih hemat 50 persen dibandingkan cara kimia. Dalam waktu satu tahun, satu ekor burung hantu dapat memangsa 1300 ekor tikus, di mana burung hantu dewasa mampu memangsa 2-5 ekor tikus setiap hari.

Hal-hal Unik dari Burung Hantu

Setelah membaca artikel ini, saya yakin beberapa dari Sahabat Organik ada yang bertekad untuk memelihara burung hantu guna mengatasi hama tikus di lahan pertaniannya. Nah, sebelum memulai, tentu Sahabat harus faham dulu ilmunya. Mang Ibo bilang, “ilmu atau keahlian itu penting dikuasai kalau ingin berhasil di suatu bidang”. Tanpa ilmu, ibaratnya kita berenang tanpa air… alias nyungsep… hehehe…

Memahami karakter dan perilaku burung hantu adalah penting kalau kita ingin serius memelihara burung berwajah ‘sangar’ ini.  Berikut adalah beberapa sifat dasar yang penting diketahui, yang saya rangkum dari berbagai sumber:

  • Secara alami, burung hantu hidup berkelompok.
  • Makanan spesifiknya adalah tikus, kodok
  • Kawasan perburuannya teratur, dan daya jelajahnya sampai 12 km dari kandang (nest box).
  • Pendengarannya sangat tajam, konon mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 meter.
  • Setia terhadap kandangnya selama tidak terganggu oleh hewan pemangsa maupun manusia. Jadi, kandang penangkar (nest box) harus aman dari gangguan, termasuk lalu lalang kendaraan bermotor.
  • Burung hantu mudah stress, kurang tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk (misalnya iklim yang ekstrim, kandang kotor, gangguan manusia, dll).
  • Yang paling unik, burung hantu suka menyelam air sewaktu bulan purnama, yang mana tak jarang beresiko kematian bila terjebak dalam air berlumpur.
  • Burung hantu mampu berkembang biak atau bertelur 2 sampai 3 kali dalam setahun.
  • Setiap kali masa bertelur, memproduksi 6-11 butir telur, sehingga seekor induk mampu bertelur sebanyak 12 hingga 33 butir dalam setahun.
  • Keluarnya telur tidak teratur setiap hari, tetapi berselang 2 – 4 hari.
  • Telur-telur akan menetas setelah dierami induknya selama 27-30 hari.
  • Setelah berumur 3 bulan, anak burung hantu menjadi dewasa dan dapat mencari makan sendiri.
  • Burung hantu muda mulai bertelur setelah berumur 8 bulan.
  • Umur burung hantu dapat mencapai 6 tahun.
  • Seekor burung hantu dewasa mampu memangsa 2-5 ekor tikus setiap hari.
  • Pada malam hari, burung hantu alami akan datang dan berkumpul disekitar kandang pemikat atau sarang alami (umumnya setelah jam 22.00 WIB).  Kehadiran burung hantu alami dicirikan oleh suara pekikannya yang khas dan bersahut-sahutan untuk memanggil burung hantu lainnya.

Tanda-tanda keberadaan Burung Hantu

Pada umumnya burung hantu bersarang di lobang pohon besar dan dilangit-langit/atap bangunan seperti gudang, kantor, sekolah, mesjid, dan bangunan lain.  Tanda-tanda yang dapat dijadikan parameter tentang keberadaan burung hantu adalah: ditemukan sisa muntahan dari mulutnya dalam bentuk pellet (terdiri dari sisa tulang dan bulu tikus yang tidak dapat dicerna), dan cairan kotoran berwarna putih kapur (basah atau kering) di atas permukaan tanah atau lantai.  Selain itu burung hantu (terutama anakannya) akan mengeluarkan suara mendesis apabila sarangnya diganggu oleh manusia atau hewan.

Bagaimana Tahapan Memelihara Burung Hantu Itu?

Agar pengembangan burung hantu berhasil dengan baik maka diperlukan tahapan pekerjaan yang harus dilakukan secara sistematis sebagai berikut :

  • Mengidentifikasi keberadaan burung hantu alami di sekitar lingkungan kebun (gudang, menara, pohon besar).
  • Mendirikan “kandang pemikat” dengan sepasang atau lebih burung hantu yang dipelihara didalamnya.
  • Mendatangkan burung hantu dari kawasan lain sebagai populasi awal jika disuatu kebun tidak dijumpai burung hantu alami.
  • Mendirikan beberapa nest box disekitar “kandang pemikat” dan secara bertahap jumlahnya ditingkatkan disesuaikan dengan peningkatan populasi burung hantu.
  • Monitoring populasi burung hantu secara rutin setiap bulan (tingkat hunian, telur, anakan terbang), serangan tikus dan kondisi nest box..

Yuk, rame-rame kita coba.. jangan kalah dari negeri tetangga !

wassalamu’alaikum.

 

Terimakasih sahabat TaniOrganik atas kunjungannya. Kalau laman ini bermanfaat silakan dishare di Facebook atau Twitter. Ditunggu pula partisipasinya untuk mengisi komentar pada form di bawah.
PEMESANAN PRODUK : 0896-6673-9495

KESAKSIAN HASIL APLIKASI

Berikut ini kami tampilkan sebagian hasil aplikasi Pupuk Organik Cair POC BMW dari berbagai kota. Nampak bahwa Pupuk Organik Cair POC BMW memberi pengaruh yang luar biasa pada pertumbuhan tanaman, kuantitas dan kualitas hasil panen.

  • Cabe merah berbuah super lebat (Bpk Agus, Banyuwangi). Penyemprotan dengan POC BMW yang mengandung hormon buah yang tinggi.

tags:

Satu komentar untuk “10 Hektar Lahan Padi, 1 Kandang Burung Hantu”

  • Anonymous says:

    pesen burung hantunya ,pak?

Comment Batalkan

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>